Lima calon kandidat yang nantinya akan menuju BH 1 di Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) kian memanas. Mendekati pesta demokrasi sebentar lagi dilaksanakan. Masyarakat di Kabupaten Tanjabtim, butuh pemimpin yang peduli.
Salah seorang Warga di Rt 08 Kelurahan Mendahara Ilir, Ibas mengatakan, diantara masing-masing calon bupati saat ini yang menjadi dominan dikalangan masyarakat, M Juber. Sebab selama ini Juber menjabat sebagai wakil bupati di Tanjabtim selalu dekat dengan masyarakat terutama setiap melakukan kunjungan ke desa beliau selalu ramah dan tutur sapa.
"Soal paparan visi dan misi beliau belum kita ketahui dengan jelas. Namun sampai saat ini sosok figur M Juber kedepan untuk menjadi seorang pemimpin di Kabupaten Tanjungjabung Timur memang sangat kita harapkan. Pasalnya program yang pernah beliau paparkan kepada masyarakat sudah sangat jelas, terutama akan melanjutkan pembangunan sarana jalan, sarana penerangan listrik bahkan juga sarana air bersih yang selama menjadi dilema masyarakat, "ungkapnya Ibas.
Begitu juga dengan warga di Desa Sinar Kalimantan, Hasanudin mengakui, M Juber merupakan sosok figur yang selama ini diharapkan untuk dapat melanjutkan kembali pembangunan di Kabupaten Tanjabtim. Sebab kharisma M Juber yang selama ini dikalangan masyarakat masih sangat dominan.
"Kondisi beliau (baca Juber-red) sangat kita maklumi, karena semua kewenangan masih sangat terbatas. Yang jelas, saat ini kedepan sosok figur Juber sangat kita harapkan untuk menuju BH 1 di Kabupaten Tanjungjabung Timur," ungkapnya.
Salah satu tokoh politik Mendahara, M Yusuf Hak menyebutkan, suhu politik saat ini kian memanas. Apalagi pesta demokrasi yang nantinya sebentar lagi akan dilaksanakan, kalau tidak salah 10 Februari 2011 mendatang, arti kata tinggal empat bulan lagi.
Nama-nama calon bupati yang mencuat dan terus menguat dikalangan masyarakat Kabupaten Tanjabtim yaitu, M Juber, Isroni, H Saipudin dan Zumi Zola. Sementara untuk bakal pendamping saat ini belum begitu populer di kalangan masyarakat. Namun sejauh ini, HM Isroni merupakan sosok figur yang nantinya dapat melanjutkan pembangunan di Tanjabtim.
Menurut dia, HM Isroni juga merupakan mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang selama ini sudah berpengalaman dalam membangun Kabupaten Tanjabtim. "Ya, paling tidak, sarana jalan sudah dapat kita rasakan. Begitu juga dengan sarana penerangan listrik. Namun yang menjadi dilema masyarakat saat ini minimnya sarana air bersih. "Tentunya dalam hal ini, sosok figur Isroni sangat diharapkan untuk melanjutkan pembangunan di Kabupaten Tanjungjabung Timur yang lebih baik, "jelas Yusuf.
Terpisah disampaikan Fendi warga di Kelurahan Mendahara Ilir mengaku, semua calon yang ada saat ini terlihat bagus, begitu juga dengan paparan penyampaian visi dan misi, semua itu akan meningkatkan pembangunan infrastruktur sarana jalan, penerangan listrik dan sarana air bersih. Namun sosok figur diantara dua calon adalah H Saipudin, beliau selama ini sudah dikenal dikalangan masyarakat.
"Semua itu tidak segampang membalikkan telapak tangan semua itu penuh dengan proses. Hal inilah yang membuat masyarakat kecil mendorong H Saipudin untuk menjadi orang nomor satu di Tanjabtim, soalnya yang selama ini kita lihat banyak kepala dinas yang hanya berdomisi luar daerah. Untuk itu sosok figur H Saipudin nantinya dapat merubah pola pemimpin di Tanjab tim,
Selasa, 19 Oktober 2010
Melihat Perkembangan Kandidat Balon Bupati di Tanjab Timur
| Bila dilihat dari rencana KPUD Tanjungjabung Timur, Pemilukada tinggal sekitar 5 bulan lagi, itu kalau tidak ada pengunduran waktu pelaksanaan dari KPUD yang disebabkan belum jelasnya anggaran Pemilukada. Kendati jadwal belum ditetapkan KPUD Tanjungjabung Timur sebagai komandan dalam pelaksanaan Pemilukada, nama bakal calon bupati sejak beberapa bulan terakhir terus bermunculan. Mereka berasal dari berbagai profesi, ada pengusaha, birokrat, politisi dan artis. Cara sosialisasi ke masyarakat juga berbeda. Seperti Isroni, H Saifudin, Muchtar Muis, Gatot Sumarto, Zumi Zola Zulkifli, dan M Juber, langsung mencantumkan tulisan Untuk Bupati Tanjungjabung Timur Periode 2011-2016 pada baleho masing-masing. Sedangkan Rita Afriyanti, Moh Hamzah, dua diantara kandidat yang mensosialisasikan diri dengan hanya memasang baleho, tetapi hanya mencantumkan jabatan di organisasi maupun partai. Bila Rita Afriyanti menuliskan Ketua DPC PDIP Tanjungjabung Timur pada balehonya, berbeda pula dengan Moh Hamzah yang mencantumkan Ketua Harian Ketahanan Pangan Tanjungjabung Timur. Dari sekian baleho para kandidat, hanya satu baleho kandidat yang menuliskan untuk wakil bupati pada balehonya, yakni Ambo Tang, anggota DPRD Tanjungjabung Timur yang sepertinya menginginkan orang nomor dua saja. Uniknya lagi, dari sekian kandidat yang bersosialisasi, ada yang sudah mundur sebelum bendera perang dikibar, dia adalah Suparno, Kadis Pendidikan Tanjungjabung Timur yang sempat memasang baleho dan menyebarkan kalender untuk menuju orang nomor satu di Tanjungjabung Timur. Entah apa sebabnya Suparno mundur. Mundurnya Suparno tak jauh dari resufle kabinet Hich kepada Isroni, Kadis Pekerjaan Umum dan H Saipudin, Kadis Kelautan dan Perikanan. Sejak itu, secara perlahan pantauan Radar Tanjab Group di lapangan, baleho Suparno diturunkan. Mungkinkah Moh Hamzah akan terimbas apa yang dialami Isroni dan H Saifudin, bila alasan seorang pegawai negeri sipil terlebih yang memiliki jabatan harus mundur dari jabatannya untuk menghindari adanya penggunaan fasilitas negara atau lain sebagainya. Saat ini, belum ada satu kandidatpun yang telah dideklarasikan secara kepartaian sebagai calon Bupati Tanjungjabung Timur. Semua masih adem-adem saja. Tapi, sederetan nama, diantaran Muchtar Muis, Zumi Zola Zulkifli, Isroni, H Saifudin, M Juber, Nur Ikwan, Anyur Ropik, Rita Afriyanti, tampak masih bertahan untuk maju menuju BH 1 TZ. "Makin banyak calon, makin mudah untuk menentukan pilihan," sebut Rahman salah seorang warga di Kecamatan Muarasabak Barat ketika dimintai tanggapannya soal Pemilukada Tanjungjabung Timur. Kata Rahman, masyarakat sudah pintar, dan memang sudah sepatutnyalah masyarakat bebas memilih tanpa ada tekanan dan bisikan. "Lebih baik lagi, mari kita memilih pemimpin yang benar-benar merakyat, ia mau ke pasar melihat apa yang terjadi di pasar, ia juga mau ke lading melihat derita petani. Bukan yang main perintah saja. Mari kita pilih pemimpin yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme," ajak Rahman yang mengaku pusing dengan kegiatan korupsi, kolusi dan nepotisme itu. |
Jumat, 15 Oktober 2010
2011, Jalan Jambi Muara Sabak Selesai
Kabar Indonesia - Jambi, Menurut Gubernur Jambi, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM, jalan Jambi menuju Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur melalui Jembatan Batanghari II sepanjang 60 km akan selesai dikerjakan tahun 2011. Hal ini disampaikan Gubernur kepada pewarta HOKI di sela-sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Rabu (15/9).
Dijelaskan Gubernur, dalam kunjungan kerjanya, beliau bersama Ketua DPRD Provinsi Jambi, Effendi Hatta, Kapolda Jambi Brigjen Polisi Bambang Suparsono, Asisten II Setda Provinsi Jambi, para Kepala Biro/Dinas terkait. Guna melihat kondisi jalan yang menghubungkan Kota Jambi menuju Pelabuhan Muara Sabak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur melalui jambatan Batanghari II, kemudian melihat pembangunan pelabuhan Muara Sabak dan Jambatan Muara Sabak.
Selain itu berkaitan dengan pembangunan jembatan Mura Sabak, sesuai dengan aspirasi dari para pengguna/yang berkepentingan yang mengharapkan agar ketinggian jembatan Muara Sabak yang semula direncanakan 12 meter diharapkan bisa dinaikkan menjadi 18 meter.
"Kesempatan ini melihat kemungkinan tersebut, sekaligus mencari kesepakatan dan mengetahui besarnya biaya yang dibutuhkan untuk perubahan tersebut, diharapkan ini dapat dibantu dengan persetujuan DPRD Provinsi Jambi, guna memenuhi keinginan dari pihak-pihak yang berkepentingan," ujar Gubernur.
Sedangkan berkaitan dengan pembangunan pelabuhan Muara Sabak dijelaskan Gubernur, sebagaimana dilaporkan oleh pihak Pelindo II tentang rencana pengembangan pelabuhan tersebut yang tengah dalam proses pembangunan. Selain kelanjutannya dengan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pengembangan pelabuhan, seperti air bersih, listrik dan yang lainnya.
Sebelumnya Kepala Bagian (Kabag) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi Benhart Panjaitan, yang juga ikut mendampingi kunjungan Gubernur ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjelaskan, jalan dari jembatan Batanghari II menuju jona lima panjangnya 31 km, yang pembangunannya belum selesai masih ada lebih kurang 12 km yang belum dikerjakan yang masih dalam kondisi jalan tanah. Hal ini dikerjakan pada akhir tahun 2010 hingga ke agregat kelas B, kemudian Tahun 2011 akan dikerjakan ke agregat kelas A langsung dengan pengaspalan.
Dana yang dibutuhkan unjuk ruas jalan sepanjang 31 km lebih kurang sebesar Rp 90 miliar. Karena jalan ini mendapat status sebagai jalan strategis nasional, maka pembangunannya mendapat dukungan dana APBN sehingga dana yang digunakan untuk pengerjaan jalan ini berasal dari APBN dan APBD Provinsi Jambi,"
Dijelaskan Gubernur, dalam kunjungan kerjanya, beliau bersama Ketua DPRD Provinsi Jambi, Effendi Hatta, Kapolda Jambi Brigjen Polisi Bambang Suparsono, Asisten II Setda Provinsi Jambi, para Kepala Biro/Dinas terkait. Guna melihat kondisi jalan yang menghubungkan Kota Jambi menuju Pelabuhan Muara Sabak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur melalui jambatan Batanghari II, kemudian melihat pembangunan pelabuhan Muara Sabak dan Jambatan Muara Sabak.
Selain itu berkaitan dengan pembangunan jembatan Mura Sabak, sesuai dengan aspirasi dari para pengguna/yang berkepentingan yang mengharapkan agar ketinggian jembatan Muara Sabak yang semula direncanakan 12 meter diharapkan bisa dinaikkan menjadi 18 meter.
"Kesempatan ini melihat kemungkinan tersebut, sekaligus mencari kesepakatan dan mengetahui besarnya biaya yang dibutuhkan untuk perubahan tersebut, diharapkan ini dapat dibantu dengan persetujuan DPRD Provinsi Jambi, guna memenuhi keinginan dari pihak-pihak yang berkepentingan," ujar Gubernur.
Sedangkan berkaitan dengan pembangunan pelabuhan Muara Sabak dijelaskan Gubernur, sebagaimana dilaporkan oleh pihak Pelindo II tentang rencana pengembangan pelabuhan tersebut yang tengah dalam proses pembangunan. Selain kelanjutannya dengan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pengembangan pelabuhan, seperti air bersih, listrik dan yang lainnya.
Sebelumnya Kepala Bagian (Kabag) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi Benhart Panjaitan, yang juga ikut mendampingi kunjungan Gubernur ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjelaskan, jalan dari jembatan Batanghari II menuju jona lima panjangnya 31 km, yang pembangunannya belum selesai masih ada lebih kurang 12 km yang belum dikerjakan yang masih dalam kondisi jalan tanah. Hal ini dikerjakan pada akhir tahun 2010 hingga ke agregat kelas B, kemudian Tahun 2011 akan dikerjakan ke agregat kelas A langsung dengan pengaspalan.
Dana yang dibutuhkan unjuk ruas jalan sepanjang 31 km lebih kurang sebesar Rp 90 miliar. Karena jalan ini mendapat status sebagai jalan strategis nasional, maka pembangunannya mendapat dukungan dana APBN sehingga dana yang digunakan untuk pengerjaan jalan ini berasal dari APBN dan APBD Provinsi Jambi,"
Rencana Pelabuhan Muara Sabak "Terancam Sedimentasi"
Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari memiliki nilai yang strategis. Sebagai DAS terbesar kedua di Sumatera dengan luas tangkapan air (water catchment area) hampir mencapai 4,9 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi dan Sumbar. Hanya saja kondisi DAS Batanghari ini semakin kritis, diindikasikan oleh semakin berkurangnya kemampuan untuk menyimpan air di musim kemarau, meningkatnya frekuensi banjir tahunan, tidak memadainya lagi pasokan air bersih untuk masyarakat, serta tingginya sedimentasi yang kesemuanya ini menunjukkan bahwa hubungan antar ekosistem yang mendukung proses daur ulang hidrologi DAS ini sedang mengalami kerusakan.
Untuk kabupaten Tanjung Jabung Timur, kerusakan DAS Batanghari diprediksi akan mengancam program pembangunan Pelabuhan Samudra Muara Sabak yang tengah dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jambi dan Kabupeten Tanjung Jabung Timur. Pelabuhan Muara Sabak direncanakan sebagai pintu gerbang ekonomi Jambi ke kawasan Segitiga pertumbuhan Singapura-Batam dan Johor (Sibajo), daerah kerjasama Indonesia-Malaysia - Singapura Growth Triangle (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Traingle (IMT-GT) serta pasar APEC.
“Namun akibat dampak pengelolaan sumberdaya alam di kawasan hulu dan tengah DAS Batanghari, pelabuhan yang direncanakan ini terbelit persoalan sedimentasi yang sangat tinggi,”kata Mahendra Taher, Koordinator Program Bioregion DAS Batanghari KKI Warsi pada acara diskusi dan sosialisasi program pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai Batanghari di Kantor Bappeda Tanjabtim Rabu (4/5).
Untuk kabupaten Tanjung Jabung Timur, kerusakan DAS Batanghari diprediksi akan mengancam program pembangunan Pelabuhan Samudra Muara Sabak yang tengah dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jambi dan Kabupeten Tanjung Jabung Timur. Pelabuhan Muara Sabak direncanakan sebagai pintu gerbang ekonomi Jambi ke kawasan Segitiga pertumbuhan Singapura-Batam dan Johor (Sibajo), daerah kerjasama Indonesia-Malaysia - Singapura Growth Triangle (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Traingle (IMT-GT) serta pasar APEC.
“Namun akibat dampak pengelolaan sumberdaya alam di kawasan hulu dan tengah DAS Batanghari, pelabuhan yang direncanakan ini terbelit persoalan sedimentasi yang sangat tinggi,”kata Mahendra Taher, Koordinator Program Bioregion DAS Batanghari KKI Warsi pada acara diskusi dan sosialisasi program pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai Batanghari di Kantor Bappeda Tanjabtim Rabu (4/5).
Data Pemerintah Provinsi Jambi menyebutkan, jika bobot kapal yang akan bersandar di pelabuhan Muara Sabak sekitar 15.000 DWT (kapal-kapal untuk ekpor-import), maka dipelukan pengerukan minimal 5.345.500 meter kubik deposit sepanjang alur sungai dengan lebar 100 meter untuk draught 9,5 meter. Saat ini Pelabuhan Muara Sabak hanya bisa disandari oleh kapal dengan bobot 3.000 DWT. Selain itu diperlukan juga pemeliharaan alur pelayaran sebanyak 298.540 meter kubik pertahun. “Biaya besar yang harus dikeluarkan untuk pengerukan tersebut merupakan biaya tambahan yang sebenarnya tidak perlu dikeluarkan jika pengelolaan DAS Batanghari ini terencana dari hulu hingga hilir ,”sebutnya.
Disamping itu, terus menurunnya daya dukung DAS ini dari tahun ke tahun juga disebabkan oleh makin berkurangnya luas tutupan hutan pada DAS. Luas tutupan lahan yang berupa hutan pada DAS Batanghari berdasarkan analisis citra Lansat TM7 tahun 2002, kawasan yang berupa hutan hanya tinggal 26 persen atau hanya 32.683,74 km persegi dari total 12 kabupaten terkait (di Sumbar dan Jambi) dari luas total 63,732,00 km persegi.
Disamping itu, terus menurunnya daya dukung DAS ini dari tahun ke tahun juga disebabkan oleh makin berkurangnya luas tutupan hutan pada DAS. Luas tutupan lahan yang berupa hutan pada DAS Batanghari berdasarkan analisis citra Lansat TM7 tahun 2002, kawasan yang berupa hutan hanya tinggal 26 persen atau hanya 32.683,74 km persegi dari total 12 kabupaten terkait (di Sumbar dan Jambi) dari luas total 63,732,00 km persegi.
Kondisi ini jelas memperlihatkan bahwa DAS Batanghari bisa dikategorikan sebagai DAS kritis, karena hutan yang merupakan pendukung utama sistim hidrologi suatu DAS juga sudah berkurang sangat drastis. Dari tahun ke tahun semakin terasa bahwa daya dukung DAS menurun. “Jika tidak serius dari semua pihak maka sedimentasi, turunnya kualitas air bersih, musibah banjir akan semakin parah melanda DAS ini. Kanyataannya saat ini hampir semua daerah memang telah mengeluhkan berbagai dampak ini,”katanya.
Solusi yang ditawarkan oleh KKI Warsi adalah perlunya pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai dengan pendekatan bioregion. Yaitu pengelolaan wilayah/teritori tanah dan air yang cakupannya tidak ditentukan olh batasan administrasi, politik, tetapi oleh batasan geografi komunitas manusia dan sistem ekologinya. “dengan pendekatan bioregion diharapkan sumberdaya alam, terutama kawasan hutan tersisa DAS Batanghari, perlu dilihat secara holistrik dan komprehensif serta masyarakat dapat terlibat penuh dalam semua level pengelolaannya.
Sementara itu pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagai mana pemaparan ketua Bappeda Tanjabtim dalam Musyawarah Perencanan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi yang diselenggaran beberapa waktu lalu untuk bidang sumberdaya alam, lingkungan hidup dan tata ruang menempatkan program yang menjadi prioritas. Prioritas untuk bidang ini adalah rehabilitasi hutan mangrove di dalam maupun diluar kawasan, optimalisasi pemanfaatan lahan melalui penghijauan melalui penanaman kayu produktif, agroforestri. Tanjabtim juga akan melakukan penanganan konservasi, rekonstruksi batas kawasan, serta revisi tata ruang. Tapal batas dan sertifikasi lahan juga menjadi prioritas di bidang tata ruang. ***
Solusi yang ditawarkan oleh KKI Warsi adalah perlunya pengelolaan sumberdaya alam di daerah aliran sungai dengan pendekatan bioregion. Yaitu pengelolaan wilayah/teritori tanah dan air yang cakupannya tidak ditentukan olh batasan administrasi, politik, tetapi oleh batasan geografi komunitas manusia dan sistem ekologinya. “dengan pendekatan bioregion diharapkan sumberdaya alam, terutama kawasan hutan tersisa DAS Batanghari, perlu dilihat secara holistrik dan komprehensif serta masyarakat dapat terlibat penuh dalam semua level pengelolaannya.
Sementara itu pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagai mana pemaparan ketua Bappeda Tanjabtim dalam Musyawarah Perencanan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi yang diselenggaran beberapa waktu lalu untuk bidang sumberdaya alam, lingkungan hidup dan tata ruang menempatkan program yang menjadi prioritas. Prioritas untuk bidang ini adalah rehabilitasi hutan mangrove di dalam maupun diluar kawasan, optimalisasi pemanfaatan lahan melalui penghijauan melalui penanaman kayu produktif, agroforestri. Tanjabtim juga akan melakukan penanganan konservasi, rekonstruksi batas kawasan, serta revisi tata ruang. Tapal batas dan sertifikasi lahan juga menjadi prioritas di bidang tata ruang. ***
Langganan:
Postingan (Atom)